Lelaki untuk Sang Bidadari

Lelaki untuk Sang Bidadari

  • 129.000


Tak ada yang lebih membahagiakan bagi sepasang suami istri yang telah bertahun-tahun menikah, namun belum juga dikaruniai seorang anak selain kehadiran sang buah hati. Dan benar saja, saat itu tiba, lahirlah seorang putri cantik yang terus tumbuh besar menjadi putri yang cerdas, hafal al-Qur’an, dan fasih membaca kitab-kitab. Namun bukanlah hidup jika tidak ada kejutan, ternyata Asma memilih jalan yang tidak dipilih oleh siapa pun: Menjadi perawan suci. Asma tak mau menikah, dan hanya ingin mengabdi dan mencintai Allah SWT.

Lalu terjadilah perdebatan itu. Asma mempertahankan pilihan jalannya, sedangkan ayahnya, Kiyai Baedlowi memiliki pendapat yang berbeda. Tak bisa bertemu dalam perbedaan, akhirnya Kiyai Baedlowi, ditemani dengan Gali yang menjadi sopirnya, akhirnya menemui beberapa kiyai. Diantara banyak Kiyai, hanya satu yang mampu mematahkan keyakinan Asma untuk menjadi perawan suci, Abah Faqih—kiyai sepuh dari Pesantren Benda Kerep.

Karena kecerdasan dan kesempurnaan yang melekat pada diri Asma, hampir semua laki-laki merasa tidak pantas jika harus memperistrinya. Abah Faqihlah yang kemudian memilih 2 murid kesayangannya, Bilal dan Arsyad itu.

Bilal telah memiliki kekasih bernama Yusrina, dan sebentar lagi mereka hendak menikah. Bilal terjebak dalam dilema: Apakah akan mempertahankan cintanya, ataukah menuruti dan mentaati perintah Kiyai Sepuh? Arsyad sendiri sudah tak lagi menjadi seorang pemuda. Ia pernah menikah dengan Maharani, putri cantik di Kaligawe, anak dari orang kaya di desa itu. Umur pernikahannya pun hanya beberapa bulan. Perceraian itulah yang dianggap warga Kaligawe sebagai penyebab “kegilaan” Arsyad.

Lantas, siapakah nanti yang akan terpilih menjadi pendamping Asma? Bilal-kah? Ataukah Arsyad? Seandainya Bilal, lalu bagaimana nasib cintanya terhadap Yusrina? Dan seandainya Arsyad, “kelebihan-kelebihan” apakah yang dimilikinya hingga duda seperti dia pantas menjadi pendamping bidadari cantik yang hanya menambatkan hidupnya untuk Allah semata? Atau jangan-jangan malah bukan keduanya?